CURHAT SEPEDAH TUA

Curhat Sepeda Tua

Memang di kotaku sesuatu yang asing jika ada yang memakai sepeda, maklumlah kota yang mengedepankan segala sesuatu harus model dan modern. Tapi jangan khawatir sobat, sepedaku akan selalu melesat cepat di antara gedung-gedung tinggi. Menelusuri jalan berlobang sana sini dengan penuh semangat besinergi, mungkin gara-gara banyak mobil besar jadi aspalnya tak kuat menahan beban, makanya banyak yang berlubang, lanjutkan perjalanan. Meski cekaman dinginnya malam menyelubungi kulitku, ini jadwal rutinku untuk menjalani majlis ilmu alias halaqah. Makanya kalau ketemu dengan karibku aku selalu bilang, “Nggak halaqah, nggak gaul!”
Sehabis solat isya, rutinitas ini menjadi pengisi dan penyeimbang hatiku dari berbagai aktivitas pekanan. Sobat, sudah pasti aku ingin menjadi ikhwan yang tangguh bat..! Harus sabar nampaknya nih, motor-motor bagus berkelebat bernostalgia sampingku, mobil-mobil indah dengan ornamen klasiknya selalu membuka kaca mobilnya melirikku aneh, namun tetap aku pede dan terus mengayuh sepeda di tengah kota metropolitan ini. Memang gengsinya masyarakat sini masih tinggi, bertambah gengsi kalau pakai sepeda. Apalagi yang berjalan kaki, selalu mengumbar senyum lucu padaku, dan si tiger gelar sepedaku tetap akan terus melaju.
Ah peduli apa, yang penting halaqah full motivasi, tetap harus dijalani. Kalau dipikir dari pada jalan kaki ke tempat majlis ini, sudah menghabiskan banyak waktu, juga capek lagi. Mendingan naik sepeda, hemat waktu. Kan waktu itu bagaikan emas sobat. Dapat dah emasnya nih…!
Sobat sedikit berhikayat tentang majlis ilmuku, memang materi yang pernah diberikan murabbi atau guruku memang luar biasa, mulai dari tafsir al-Qur’an, kajian hadits kontemporer, kemudian materi 20 ushul Hasan Al Banna, sang revolusioner dakwah Islam itu. Tambah asyiknya lagi, bisa curhat dengan murabbi seputar kehidupan sehari-hari, mulai dari hal kuliah atau suasana masyarakat, atau masalah keluarga atau persahabatan, cinta juga boleh, pasti diberi obat mujarab dari beliau, tenang jadinya hidup nih..! Ditambah spirit nasyidnya, ketika aku sering menyanyikan nasyid Gondes.

Tak terhingga tiada tara
Saat murabbi memberi data
Sekumtum bunganya serba mempesona
Hapalan Al-Qur’annya
(wuw..huuuw..)
Sungguh luar biasa…

Sisi jihadnya menguntai indah sastra
Sisi dakwahnya setara dengan S tiga (2X)

Aku sering bilang sama teman halaqah-ku, “Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu; kuliah pulang, kuliah pulang. Kalau ada 4K+1H; Kegiatan mahasiswa, Kampus, Kantin, Kost dan Halaqoh, kenapa harus cari yang lain.”
Sesampai aku di sekre Azam, ya nama majlis ilmu kami, halaqah Azam. Aku lihat kawan-kawan halaqah-ku sudah berkumpul, namun murabbi belum sampai lagi. Setelah cipika-cipiki sana sini, berbagi hikmah sama kawan-kawan, ada juga yang gantian pijit-pijitan. Bunyi motor khas murabbi kami terdengar dari depan sekre, kami pun siap-siap, murabbi kami sudah datang, ambil ilmunya sebanyak mungkin.
Sepulang halaqah, tigerku meluncur kembali dengan kecepatan 120 KM/menit (he…just kidding) di tengah hawa dingin, namun dalam hati telah berkobar bendera motivasi, semangat baru sebagai mujahid muda. Sobat aku terjebak banjir sejengkal mengguyuri jalan, tetap aku kayuh lebih kuat lagi sepedaku. Kalaupun ada razia di jalan nanti, pasti tigerku tak akan ditahan pak polisi, karena sepeda bebas razia, bebas bensin, bebas helm, bebas STNK, bebas polusi dan polisi.
Terima kasih ya Allah yang telah memberi azam yang kuat dalam diriku, hingga aku bisa menambah ilmu hari ini. Semoga juga kawanku yang membaca tulisan ini bisa halaqah juga.Amiiin…
***
Ada cerita menarik, kutulis dalam catatan harianku sobat, judulnya “Pak polisi juga manusia, punya rasa punya hati.” Pernah ketika aku berangkat ke rumah kawan satu halaqah, tempatnya agak jauh dari rumahku, hitung-hitung cari suasana baru. Jadi aku memilih numpang sama kawan yang bawa motor, helm juga tak sempat dicari tekejar mepetnya waktu.
Dalam perjalanan kami tak terbesit ada razia polisi di jalan raya, karena biasanya di sini jarang ada razia. Tapi tanpa aku sadari, malam itu aku dan kawanku tersentak ada razia, kami pun sudah terkepung kumpulan polisi, dengan pakaian jaket orangenya, mengkilat. Ada trik jitu mereka, lampu di jalan raya itu dimatikan semua, jadi pandangan kami buram malam itu, agar mudah mendapatkan mangsa. Kami disuruh berhenti, teman yang lain sudah lewat, selamat. Cuma kami berdua tertahan.
“Maaf, malam pak!”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” Kami jawab sapa pak polisi, mungkin grogi ya ketemu langsung dengan polisi, jadi jawabnya tak nyambung, tapi mantap juga lah.
“Maaf , apa kesalahan bapak?”
“Kami tak pakai helm pak,” cengar-cengir kawanku menjawab.
“Tapi gini pak, kami tadi buru-buru karena malam ini harus ikut majlis taklim, jadi tadi tak sempat cari helmnya,” aku beralasan. Melihat tampang kami saat itu pakai baju koko dan peci. Polisi langsung percaya, polisi itu langsung melapor ke atasannya yang duduk samping jalan, nampaknya dipertimbangkan.
“Besok, jangan diulangi lagi ya!” ucap pak polisi, mempersilahkan kami untuk lanjutkan perjalanan.
Alhamdulillah, kami selamat sobat. Aku pikir, mungkin pak polisi kasihan dengan kami atau mungkin sebaliknya, takut dengan kami yang berpakaian ala muslim semua, bukan teroris bat!
Sobat, kapan-kapan kita curhat lagi ya, dah malam nih. Makanya besok kamu beli sepeda dijamin bebas razia, selain itu juga hemat dan sehat sobat.***

2 Balasan ke CURHAT SEPEDAH TUA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: