TERLALU CEPAT

Di masa liburan sekolah beberapa waktu berselang, saya ikut menonton sebuah film keluarga yang tengah ditonton anak saya. Dikisahkan dua anak perempuan kembar berusaha mempertemukan kembali kedua orang tua mereka yang telah lama bercerai, justru di saat sang ayah hendak menikah lagi dengan seorang kekasih barunya. Sang Ibu adalah seorang perancang busana terkenal di Inggris, yang diminta (oleh sang Anak) untuk mendesain gaun pengantin di pernikahan sang Ayah. Sang Ayah cukup terkejut saat mengetahui siapa yang merancang gaun pengantin wanita, pun juga si Ibu, dan tentu saja sang calon mempelai wanita. Kedua anak penyusun rencana tersenyum penuh makna saat yang lain dalam keterkejutan. Mereka bahkan merencanakan sebuah pertemuan makan malam lanjutan agar kedua orang tua mereka bisa bertegur sapa kembali.

“Hebat. Sekarang kau ternyata seorang perancang busana terkenal,” kata sang mantan suami membuka kekakuan saat makan malam berdua yang cukup romantis, yang direncakan dengan matang oleh kedua anak.

“Dulu kau sering membuat sketsa di kertas kantong belanja dan taplak meja,” tambahnya.

“Dulu kau juga selalu bilang ingin keliling dunia. Kini kau bekerja di sebuah kapal pesiar, dan selalu berkeliling dunia,” jawab sang mantan istri dengan tersenyum.

Beberapa suap makan dan tegukan minum membantu mereka melewatkan beragam lintasan perasaan. Bisa jadi masih ada cinta di hati mereka yang kini terpupuk kenangan lama. Saat-saat mereka pertama kali bertemu, masa-masa cinta bersemi dan tumbuh dengan kuatnya.

“Aku tak pernah melupakan betapa cepatnya kau pergi saat itu,” kata si pria.

“Ya, saat itu aku sedemikian marahnya dan segera ke bandara untuk pergi dengan pesawat terbang pertama yang bisa kudapat untuk menunjukkan betapa besar kemarahanku padamu. Tapi kau juga tak mengejarku…”

“Aku tak tahu kalau kau ingin aku mengejarmu.”

Mereka saling berpandangan dan tersenyum, mulai menempatkan kesalahan pada diri mereka masing-masing setelah sekian lama selalu menempatkan kesalahan pada pihak lain saat mereka (dulu selalu) bertikai.

“Dulu kita masih terlalu muda. Kita bertemu begitu saja, saling suka, dan memutuskan untuk menikah terlalu cepat.” Kata sang wanita, seakan menyuarakan harapan andai mereka bisa saling mengenal lebih jauh dan dekat dahulu sebelum memutuskan untuk menikah dengan seorang ‘manusia sempurna yang tak dikenal’ (perfect stranger).

“Tidak.” Jawab sang pria berusaha membantah bahwa keputusan mereka untuk menikah adalah kesalahan. “Kita terlalu cepat menyerah dan memutuskan berpisah.”

* * * * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: